Selasa, 28 Juni 2022

PERAN PENTING ORANGTUA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DI ERA DIGITALISASI MODERN

Peran serta orangtua sudah terbukti efektif dalam meningkatkan prestasi siswa, meningkatkan karakter siswa, meningkatkan ketahanan siswa di sekolah, dan meningkatkan tingkat kelulusan siswa (Khalifa, 2012; Noguera, 2004; Epstein, 2009).

Selain guru, orangtua juga berperan penting dalam ambil alih karakter anak, pendidikan orangtua dirasa sangat murah dibandingkan dengan kebijakan gonta-ganti kurikulum dan kebijakan pelatihan guru yang selama ini hanya terfokus pada pelatihan pembuatan RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), seperti yang gencar di lakukan pemerintah dulu hingga sekarang. 

Padahal kalau kita mengikuti ajaran KH. Dewantara tentang Tri Pusat Pendidikan (rumah, sekolah, dan lingkungan) maka harusnya sekolah dapat bekerja sama dengan rumah bukan hanya sekadar mengikuti dan membayar uang komite. Harus lebih dari itu. Seyogyanya pula, pemerintah harus memberi perhatian khusus pada pengikutsertaan orangtua dan masyarakat dalam pendidikan anak di sekolah secara real dan aplikatif.

Peran penting orangtua dalam pembentukan karakter anak
sumber : https://edukasi.khttps://


Sebagian besar waktu anak di habiskan di lingkungan rumah, waktu untuk di sekolah hanya sekitar 6-7 jam saja, sisanya waktu belajar dirumah, oleh karena itu anak lebih banyak bertemu dengan orangtua. disitu orangtua wajib memberi bimbingan kepada anak dengan cara di bekali dengan ilmu agama dan perilaku akhlakul karimah.

Era digital adalah masa dimana semua manusia dapat saling berkomunikasi sedemikian dekat walaupun saling berjauhan. Manusia dapat dengan cepat mengetahui informasi tertentu bahkan real time. Era digital ditandai dengan adanya teknologi, di mana terjadi peningkatan pada kecepatan dan arus pergantian pengetahuan dalam ekonomi dan kehidupan manusia. Teknologi menjadi alat yang mampu membantu sebagian besar kebutuhan manusia. Era digital telah membawa berbagai perubahan yang baik sebagai dampak positif maupun perubahan yang tidak baik sebagai dampak negatif, sehingga menjadi tantangan baru dalam kehidupan manusia. 

Di era genjatan digital, anak banyak menghabiskan waktu dirumah dengan bermain gadget ataupun handphone, ada sisi negatif dan ada sisi positif dari bermain gadget, orangtua harus mampu dalam ambil alih bagaimana pola pikir dan karakter anak tersebut, apakah orangtua akan membatasi tontonan anak ? atau malah membiarkannya?

orangtua yang membatasi tontonan anak didalam gadgetnya , mengarahkan dengan lebih banyak menonton yang mengandung edukasi, adalah orangtua yang ingin anaknya menjadi anak yang baik berbudi pekerti luhur. berbeda dengan orangtua yang membiarkan anaknya bermain gadget tanpa pembatasan waktu, anak menjadi susah untuk dinasehati dan lebih banyak menirukan apa yang dia tonton.

Melihat perkembangan era digital saat ini, penggunaan perangkat digital bagi kehidupan manusia telah berpengaruh terhadap pendidikan anak sehingga pengawasan dan pendampingan orang tua terhadap anak penting untuk dilakukan. Orang tua harus terus belajar dan mengembangkan diri agar mampu mendampingi dan memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Dalam proses pendidikan diera digital ini adapun peran orang tua dalam mendidik anak yaitu: 

  1. Menambah Pengetahuan, orang tua minimal mengetahui cara memproteksi situs web dan media sosial yang berdampak negatif terhadap anak. Jika tidak memahami hal tersebut maka orang tua akan megalami kesulitan dalam menetapkan aturan dan bagaimana cara menggunakan internet dan jaringan media sosial
  2. Mengarahkan Penggunaan Perangkat dan Media Digital dengan Tepat, orang tua memahami manfaat dan resiko penggunaan media digital sehingga dapat mengarahkan penggunaannya dengan baik sesuai usia dan tahap perkembangan anak;
  3. Mengimbangi Waktu Penggunaan Media Digital dengan Interaksi di Dunia Nyata, orang tua dapat mengimbangi penggunaan media digital dengan mengenalkan pengalaman dunia nyata seperti kegiatan berkesenian, kegiatan luar ruangan, olahraga, membaca interaktif, musik, permainan tradisional kepada anak; 
  4. Meminjamkan Anak Perangkat Digital Sesuai Keperluan, orang tua meminjamkan anak perangkat digital seperti smart phone, laptop, dan komputer agar anak bisa belajar mengendalikan diri dan belajar menggunakannya bersama keluarga; 
  5. Memilihkan Aplikasi Positif; orang tua perlu mengidentifikasi aplikasi yang memiliki edukasi dan memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang anak; 
  6. Mendampingi dan Meningkatkan Interaksi, orang tua mendampingi anak saat bereksplorasi di dunia maya menggunakan satu perangkat digital pada kesempatan yang sama sebagai kegiatan bersama keluarga;
  7. Gunakan Perangkat Digital Secara Bijaksana seperti mengatur batasan penggunaan perangkat digital secara seimbang sesuai usia anak, dan meletakkan perangkat komputer di ruang terbuka yang mudah dilihat, tidak menggunakan perangkat digital sebelum tidur, tidak menggunakan perangkat digital pada saat berinteraksi dengan orang lain; dan
  8. Menelusuri Kegiatan Anak di Dunia Maya, orang tua dapat memantau dan mengarahkan situs web dan media sosial yang mendukung tumbuh kembang anak dan memastikan anak tidak mengunjungi situs yang tidak sesuai usia. 


Senin, 27 Juni 2022

PENGARUH PEMIKIRAN KREATIF GURU TERHADAP POLA BELAJAR SISWA

PENGARUH PEMIKIRAN KREATIF GURU TERHADAP POLA BELAJAR SISWA
PENGARUH PEMIKIRAN KREATIF GURU TERHADAP POLA BELAJAR SISWA
Sumber : https://kurikulum2013kelas6.wordpress.com/




Kemajuan suatu bangsa berkaitan erat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut seseorang untuk dapat menguasai informasi mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, sistematis, dan logis. Salah satu program yang dapat menganalisis kemampuan berpikir kritis, kreatif, sistematis, dan logis adalah matematika (Rochaminah, 2008:1).

Dalam dunia pendidikan guru dituntut untuk memberi pemahaman materi kepada anak didiknya, dari yang saya tau hampir 70% dari 100% guru masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi kepada anak didik, terkadang gruu hanya menilai anak didik dari segi pemahaman dengan menjawab soal pretest yang ada di buku paket . hal ini menyebabkan guru kurang memahami seberapa banyak tingkat pemahaman anak didik. 

Disisi lain guru hanya menjelaskan materi dengan cara berbicara sendiri atau hanya dengan menuliskan materi di papan tulis. sehingga anak didik merasa bosan dan rasa semangat untuk belajar berkurang.apalagi kalau masih sekolah dasar / madrasah ibtidayah , anak dengan usia 6-12 tahun lebih aktif menggunakan motorik , sehingga anak cenderung lebih menarik dengan permainan .

Dalam hal ini guru diharuskan memiliki pola pikir yang kreatif untuk mengubah model pembalajaran yang menarik bisa dengan mengajak praktek langsung ke lapangan , atau bisa dengan menjelaskan materi dengan media pembelajaran. media pembelajaran menarik mengundang semangat dan keingintahuan anak didik terhadap materi tersebut. dan dengan cepat bisa menangkap materi dengan baik dan mengasikkan.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu media pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas siswa, yaitu konsep pembelajaran yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan dan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir. Siswa dihadapkan dengan problem pembelajaran, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekanakan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban.

Munandar (2009) menyatakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan menjadi dua, yakni ciri kognitif (aptitude) dan ciri non kognitif (non-aptitude). Ciri kognitif (aptitude) dari kreativitas terdiri dari orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran dan elaborative. Sedangkan ciri non-kognitif non-aptitude) dari kreativitas meliputi motivasi, kepribadian, dan sikap kreatif. Kreativitas atau berpikir kreatif tidak bisa muncul dengan sendirinya melainkan butuh suatu latihan. Dalam hal ini guru harus bisa melatih dan mengasah kemampuan berpikir kratif siswa dengan pembelajaran yang memunculkan permasalahanpermasalahan sehari-hari yang bersifat tidak rutin. Masalah rutin adalah masalah yang prosedur penyelesaiannya sekedar mengulang, misalnya secara algoritmik. Sedangkan masalah tidak rutin adalah masalah yang prosedur penyelesaiannya memerlukan perencanaan penyelesaian, tidak sekedar menggunakan rumus, teori atau dalil (Meika dan Sujana, 2017).

Dan dapat disimpulkan bahwa, pengaruh ide kreatif guru akan mempengaruhi tingkat pemahaman siswa.

PERAN PENTING ORANGTUA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DI ERA DIGITALISASI MODERN

Peran serta orangtua sudah terbukti efektif dalam meningkatkan prestasi siswa, meningkatkan karakter siswa, meningkatkan ketahanan siswa di ...